Our Blog

What we post and publish is awesome!

Akibat Adanya Pengaruh Relativisme di Dalam Masyarakat

Akibat Adanya Pengaruh Relativisme di Dalam Masyarakat

Akibat Adanya Pengaruh Relativisme di Dalam Masyarakat

Akibat Adanya Pengaruh Relativisme di Dalam Masyarakat

Sifat relatif dari kebudayaan itu memberikan suatu penjelasan mengenai tingkah laku. Ada 3 perwujudan beserta konsekuensi-konsekuensi tingkah laku sebagai akibat dari prasyarat-prasyarat yang ditentukan oleh kebudayaan itu, yakni:
1.    Fanatisme Suku Bangsa (Ethnosentrisme)
Pengamat yang arif, selagi bepergian, selagi bepergian dari negeri yang satu ke negeri yang lain, ia akan melihat bahwa hampir semua individu yang dijumpai akan menganggap bahwa kebudayaannya lebih baik atau lebih tinggi daripada kebudayaan-kebudayaan lainnya dalam satu atau lain hal. Orang Prancis akan membanggakan bahasanya yang indah, orang Italia akan membanggakan musiknya, Orang Amerika membanggakan kekayaan materinya, dan orang timur membanggakan kearifannya yang diwarisinya dari zaman kuno. Tidaklah mengherankan kalau ada bangsa yang satu sangat meninggikan apa yang dimilikinya di atas bangsa-bangsa lain. Etnosentrisme ialah istilah yang dipakai untuk menyatakan kecenderungan untuk menilai kebudayaan-kebudayaan sendiri. Kebanyakan individu, bahkan mereka yang sudah memiliki tingkat pendidikan tinggi, pada satu atau lain saat akan jatuh menjadi korban.
Fanatisme memiliki keuntungan tertentu bagi kestabilan dan keutuhan kebudayaan sifat-sifat kepribadian seperti patriotisme, kesetiaan kepada bangsa dan provinsialisme sangat erat hubungannya dengan etnosentrisme. Sebaliknya selain mengurangi keobyektifan bagi ilmu pengetahuan, etnosentrisme juga menghambat hubungan antara kebudayaan-kebudayaan serta menghambat proses asimilasi kebudayaan (persatu-paduan) antara dua unsur kebudayaan yang merupakan satu campuran senyawa, yang menunjukkan satu gejala pada tingkah laku) antara kelompok-kelompok yang berbeda menjadi suatu bangsa yang besar.

2.    Guncangan Kebudayaan (Culture Shock)
Istilah culture shock ini pertama kali dipopulerkan oleh Kalervo Oberg. Ia menggunakan istilah ini untuk menyatakan apa yang ia sebut sebagai suatu penyakit jabatan dari orang-orang yang secara tiba-tiba dipindahkan ke dalam suatu kebudayaan yang berbeda dari kebudayaannya sendiri. Oberg mengatakan culture shock itu merupakan suatu bentuk penyakit mental yaitu penyakit yang tidak disadari oleh korbannya. Ia mengatakan bahwa penyakit ini timbul akibat kecemasan karena orang itu kehilangan semua tanda-tanda dan lambang-lambang pergaulan sosial yang sudah ia kenal dengan baik. Jika seribu macam tanda-tanda dan lambang-lambang yang bisa ia pakai untuk mengorientasikan dirinya itu hilang, misalnya kapan harus berjabat tangan, bagaimana cara membeli sesuatu, bagaimana caranya memberikan perintah kepada pembantu, ekspresi-ekspresi yang bagaimanakah yang harus diperlihatkan, dan sebagainya, maka orang itu akan kehilangan kedamaian di dalam pikiran dan efisiensi di dalam kerjanya.
Tahap-tahap yang membentuk siklus kultural shock bagi setiap individu, diantaranya:
•    Tahap Bulan Madu
Tanpa waktu orang akan merasakan sebagai suatu pengalaman batu yang menarik, misalnya seseorang yang biasanya hidup di tempat pemukiman tanpa adanya seorang pembantu tiba-tiba ia tinggal di suatu hotel untuk sementara waktu dan ia pun dijamu oleh orang-orang penting setempat.
•    Tahap Kritis
Ditandai dengan suatu perasaan dendam. Di sini terlihat bahwa segala sesuatunya tidak beres, misalnya kesulitan bahasa menimbulkan kesulitan terhadap pembantu rumah tangga, dan lain-lain
•    Tahap Kesombongan
Korban menjadi bersikap agresif dan bersekutu dengan orang-orang sebangsanya. Misalnya menghina corak kehidupan serta penduduk di situ, dan akan memandang penduduk itu sama buruknya.
•    Tahap Emosi
Korban memiliki perasaan kurang mampu berdiri sendiri, mudah marah akan kesalahan-kesalahan kecil yang tidak terelakkan, perasaan kuatir yang berlebih-lebihan, terlalu curiga kepada penyakit yang ringan, jangan-jangan dipercayakan atau dirampok orang.

3.    Pertentangan Kebudayaan (Culture Conflict)
Konflik dipandang sebagai unsur normatif dari organisasi-organisasi sosial. Konflik kebudayaan bisa timbul antara anggota-anggota kebudayaan satu dengan anggota-anggota kebudayaan yang lain. Hal ini merupakan suatu aspek kebudayaan yang begitu penting sehingga konflik kebudayaan tersebut bisa ditekankan sebagai konsep istimewa. Adapun beberapa faktor yang dapat menimbulkan konflik kebudayaan. Misalnya keyakinan-keyakinan yang berlainan sehubungan dengan sistem pemerintahan, praktek-praktek di bidang perekonomian kehidupan keluarga, dan pendidikan, konflik orang tua dan anak-anaknya yang berumur belasan tahun, sedikit banyak dapat digolongkan ke dalam konflik kebudayaan dan masalah-masalah yang dihadapi oleh para imigran.

Baca Juga :