Our Blog

What we post and publish is awesome!

Definisi Al Bid’ah Dan Al Furqoh

Definisi Al Bid’ah Dan Al Furqoh

Definisi Al Bid’ah Dan Al Furqoh

Setelah kita memahami As-Sunnah dan Al-Jama’ah, kita perlu memahami lawan dari keduanya; yaitu al-bid’ah dan al-furqah. Dengan mengerti dan memahami apa itu bid’ah dan apa itu furqah, maka diharapkan kita dapat lebih berhati-hati dari kemungkinan terjatuh dalam perbuatan yang merupakan penyimpangan dari As-Sunnah dan Al-Jama’ah tersebut.


ISLAM TELAH SEMPURNA DALAM SEGALA BIDANG 

Hal yang perlu diingat dalam memahami agama Allah ini adalah kepastian dari Allah Ta`ala dan Rasul-Nya bahwa Islam adalah agama Allah yang telah sempurna segala bidangnya dan tidak membutuhkan tambahan dari selain Allah dan Rasul-Nya di semua tempat di dunia ini dan di segala jaman. Allah Ta`ala telah menegaskan kesempurnaan agama-Nya yang berarti juga kesempurnaan nikmat-Nya kepada kita:

“Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kalian agama kalian dan Aku telah sempurnakan pula nikmat-Ku atas kalian dan Aku telah restui Islam menjadi agama bagi kalian.” (Al-Ma’idah: 3).

Al-Imam Al-Hafidh Abul Fida’ Isma’il bin Katsir Al-Qurasyi ketika menerangkan ayat ini menyatakan: “Ini adalah nikmat Allah yang paling besar terhadap ummat ini, dimana Allah telah menyempurnakan agama mereka sehingga mereka tidak lagi memerlukan agama lainnya, dan tidak pula memerlukan Nabi lainnya selain Nabi Muhammad shalawatullah wa salamuhu `alaihi. Oleh karena itu Allah jadikan beliau sebagai penutup para Nabi dan Allah utus beliau kepada segenap manusia dan jin. Maka tidaklah dikatakan sesuatu itu sebagai perkara yang halal, kecuali apa yang telah dihalalkan olehnya. Demikian pula sesuatu itu tidaklah dikatakan sebagai perkara yang haram, kecuali apa yang telah diharamkan olehnya. Juga tidaklah dinamakan agama, kecuali apa yang telah disyari’atkannya. Dan segala perkara yang diberitakan olehnya, maka telah pasti dia itu adalah benar dan jujur, serta tidak ada unsur dusta dan tidak pula ada unsur membikin-membikin berita tentang apa yang tidak pernah terjadi. Hal ini juga telah diberitakan oleh Allah Ta`ala dalam firman-Nya:
(ayat)
“Dan telah sempurna agama Tuhanmu dengan jujur benar dan adil.” (Al-An’am: 115)

Yakni jujur dan benar dalam beritanya dan adil dalam segala perintah dan larangannya. Maka ketika Allah sempurnakan agama mereka, jadilah sempurna kenikmatan-Nya atas mereka.” (Tafsir Ibnu Katsir jilid 3 hal. 36).
Dengan demikian, bila agama telah memberikan ketentuan apapun dalam suatu perkara, kita tidak membutuhkan tambahan dari ajaran lain dalam memahaminya dan dalam mengamalkannya. Juga, dalam memperjuangkan agama ini tidak alasan untuk kita mencari ajaran atau bimbingan dan cara perjuangan dari selain Allah dan Rasul-Nya. Adapun dalam perkara yang tidak dibahas oleh Allah dan Rasul-Nya, bila itu adalah dalam perkara dunia maka dipersilakan kita untuk mengambil inisiatif sendiri selama tidak melanggar batas-batas keharaman. Tetapi bila hal yang didiamkan itu dalam perkara ghaib atau selain perkara dunia, maka kita dilarang membahasnya atau membikin kesimpulan-kesimpulan tertentu yang tentunya hanya berdasarkan sangkaan belaka. Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya aku telah meninggalkan bagi kalian (agama ini, pent) seperti barang yang putih: Malamnya sama dengan siangnya (dalam kejelasan, pent), maka tidaklah akan menyimpang darinya kecuali dia binasa.” (HR. Ibnu Abi Ashim dalam Sunnahnya jilid 1 halaman 67 riwayat ke 49 dari Al-‘Irbadl bin Sariyah).
Juga beliau bersabda:

“Tinggalkanlah aku (yakni jangan lagi menanyai aku, pent) dalam apa yang telah aku tinggalkan penjelasannya bagi kalian. Karena yang membinasakan ummat sebelum kalian adalah karena banyaknya mereka bertanya kepada para Nabi mereka dan banyaknya mereka menyelisihi para Nabi itu. Maka bila aku larang kalian tentang sesuatu, jauhilah apa yang telah dilarang itu. Dan bila aku perintah kalian tentang sesuatu, maka tunaikanlah perintah itu dengan sebesar kemampuan kalian.” (HR. Bukhari dalam Shahihnya, Kitabul I’tisham bil Kitab was Sunnah Bab Al-Iqtida’ bi Sunani Rasulillah shallallahu `alaihi wa sallam hadits 7288 – Fathul Bari jilid 13 halaman 251).

Dengan demikian, maka tidak ada alasan yang bisa diterima oleh logika Syari’ah Islamiyah bila orang menganggap bahwa untuk memahami kebenaran Islam harus mencari tambahan keterangan atau contoh pengamalan dari selain apa yang telah diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Sumber : https://aziritt.net/