Our Blog

What we post and publish is awesome!

Islam Budaya Arab

Islam Budaya Arab

Islam Budaya Arab

Islam Budaya Arab

Sebagian kaum muslimin agak sulit membedakan antara Islam dengan budaya Arab. Sehingga sering terjadi salah paham terhadap kedua hal tersebut. Budaya Arab terkadang diangggap sebagai Islam, dan sebaliknya islam dianggap sebagai budaya Arab. Hal ini perlu kita pelajari lebih dalam agar kita dapat membedakan antara agama dan produk budaya.

Kondisi Budaya Dunia sebelum dan setelah Islam

Sebelum Islam diturunkan diseluruh negeri, dunia diliputi oleh kebodohan dan kegelapan yang merata disegala lini kehidupan. Kehidupan mereka kala itu jauh dari ilmu, karena memang agama terakhir saat itu yaitu nashrani, tidak dijamin oleh Allah Ta`ala kekekalan dan kasliannya seperti Allah Ta`ala menjamin kekekalan dan keaslian Islam, sehingga merekapun menjalani kehidupan didunia ini hanya semata-mata mengikuti naluri dan selera nafsu mereka semata. Oleh sebab itu budaya kehidupan di seluruh negeri saat itu, tidak terlepas dari syirik, khurafat dan sebagainya sesuai dengan latar belakang budayanya masing-masing. Zaman itulah yang kita kenal dengan istilah zaman jahiliyyah.

Kemudian datanglah Islam dengan mambawa wahyu Allah Ta`ala dalam bentuk Al Qur`an dan Assunnah, yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shalallahu `Alayhi Wasallam. Islam datang sebagai “pengkritik” segala budaya-budaya yang ada di dunia. Kritik yang dilakukan Islam adalah dalam rangka menyempurnakan Akhlaq manusia agar menciptakan kehidupan manusia yang benar-benar manusiawi, baik akhlaq manusia sebagai makhluq kepada Allah sebagai Khaliqnya (pencipta) yang diistilahkan juga dengan hablum minallah, maupun akhlaq antara sesama manusia atau hablum minan naas. Dalam hal ini Rasulullah Shalallahu `Alayhi wa Sallam bersabda:

“Artinya : Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq-akhlaq yang mulia“. [Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam ‘Adabul Mufrad’ dan Imam Ahmad. Lihat ‘Silsilah Ash-shahihah 15’]

Fungsi Islam sebagai pengkritik ini pertama kali dijalankan sejak pertama kali Islam itu turun ke muka bumi ini. Berhubung Islam turun di Arab, maka pihak yang pertama kali dikritik oleh Islam adalah budaya Arab. Ketika itu bangsa Arab sebagaimana bangsa-bangsa yang lainnya adalah bangsa yang tenggelam dalam berbagai kerusakan akhlaq, mereka gemar berperang baik antar suku maupun antar qabilah, mereka juga gemar meminum khamr, judi dan mereka memperlakukan wanita layaknya seperti barang, dan kerusakan terbesar pada saat itu adalah perbuatan mereka yang beribadah kepada Allah namun juga beribadah kepada selain Allah (Syirik), dan masih banyak lagi kerusakan-kerusakan akhlaq yang lainnya pada masa itu yang menjadikan kehidupan mereka jauh dari sifat manusiawi yang haqiqi. Maka mulailah Islam menjalankan fungsinya sebagai pengkritik. Dimulai dari hal yang terpenting yang menjadi prioritas utama yaitu kerusakan akhlaq manusia terhadap Allah yaitu perbuatan syirik. Dimana asas-asas budaya Arab yang saat itu mengandung unsur-unsur kesyirikan, khurofat dan sebagainya, semuanya dikoreksi total oleh Islam dan diganti dengan asas-asas yang berlandaskan ketauhidan kepada Allah Ta`ala, hingga akhirnya bangsa Arab berubah dari bangsa yang penuh dengan kesyirikan, khurofat dan sebagainya tadi, menjadi bangsa yang muwahhid (mentauhidkan Allah Ta`ala).

Demikianlah fungsi koreksi itu terus masuk ke semua lini kehidupan dan budaya bangsa Arab, hingga akhirnya masayrakat dan budaya Arab itu tunduk kepada Islam. Oleh sebab itu bangsa Arab justru bangsa yang paling pertama merasakan serangan kritik dan koreksi dari Islam. Kemudian fungsi kritik itu terus meluas masuk ke negara-negara sekitarnya seperti Persia, Romawi dan akhirnya sampai ke Indonesia. Maka tidak ada pilihan lain bagi masyarakat atau budaya suatu bangsa, ketika Islam masuk ke sana, sementara mereka mengkui Islam sebagai agamanya, maka orang-orang disana harus siap untuk dikritik oleh Islam dan siap berubah dari seorang musyrik menjadi seorang muwahhid (orang yang bertauhid), apapun latar belakang budaya ataupun bangsanya.

Sumber : https://abovethefraymag.com/