Our Blog

What we post and publish is awesome!

Kisah Inspiratif Petinju Berhijab Penyandang Disabilitas yang Tangguh

Kisah Inspiratif Petinju Berhijab Penyandang Disabilitas yang Tangguh

Kisah Inspiratif Petinju Berhijab Penyandang Disabilitas yang Tangguh

Tinju

adalah olahraga dan seni bela diri yang menampilkan dua orang partisipan dengan berat yang serupa, bertanding satu sama lain dalam rangkaian pertandingan berinterval satu atau tiga menit yang disebut ronde. Baik dalam olimpiade ataupun olahraga profesional, kedua petinju menghindari pukulan lawan mereka sambil berupaya mendaratkan pukulan ke lawannya.

Adalah Sannah Husain seorang penyandang disabilitas yang membuktikan bahwa kekurangannya tak menghalanginya untuk menjadi atlet tinju. Sannah adalah hijabers asal Pakistan berusia 25 tahun yang lahir dan dibesarkan di Glasgow, Skotlandia. Sannah menderita Myasthenia Gravis, penyakit neuromuskular autoimun kronis yang menyebabkan kelemahan otot. Dia juga memiliki albinisme, yang menyebabkan kulitnya memutih dan mengalami masalah dengan penglihatannya.

Di balik penyakit yang ia derita

Sannah memiliki kisah menginspirasi. Dia merupakan seorang lulusan universitas, pekerja amal, penyiar radio dan petinju wanita berhijab.

Sannah pertama kali menjajal dunia tinju, ketika badan amal tempat ia bekerja menggelar kelas tinju khusus wanita yang bertujuan untuk mengkampanyekan pemberdayaa wanita serta kegiatan sehat yang positif untuk muslim Komunitas Muslim Asia di Glasgow.

Sebagai perwakilan dari badan amal tempatnya bekerja

pada saat itu Sannah merasa tergerak untuk ikut berpartisipasi dalam kampanye tersebut. “Rasanya tepat jika saya bergabung dalam kelas tinju tersebut. Dan saya ternyata menikmatinya setelah saya mengambil kelas tambahan setiap minggu,” ucapnya kepada The New Arab. Sannah menambahkan bahwa dia selalu menjadi orang yang aktif meskipun memiliki kekurangan di tubuhnya.

Pada akhirnya Sannah benar-benar jatuh cinta pada tinju

Sebelumnya dia pernah mencoba olahraga lain yang mengharuskannya bekerjasama dengan orang lain atau tim. Namun dia merasa tidak cocok.

“Saya tidak jago untuk olahraga yang mengharuskan berada dalam tim, karena saya merasa tidak mampu bersaing dengan orang lain. Sedangkan tinju itu harus mengandalkan diri sendiri,” kata Sannah.

Sannah pun berlatih tinju hingga mengikuti pertandinga. Selama enam minggu latihan intensif sebelum pertandingan, dia melakukan berbagai latihan mulai dari teknik tinju, menjaga stamina, penguatan otot dan kebugaran. “Pelatih saya tahu bahwa penglihatan saya tidak sempurna dan memiliki penyakit lemah otot. Melalui email, saya diberitahu bahwa saya tidak akan mampu melawan. Tapi saya berusaha dan meyakinkannya bahwa saya bisa melakukannya,” ujarnya.

Berkat kegigihan hatinya, Sannah dan pelatihnya sepakat bahwa dia bisa ikut dalam pelatihan untuk pertandingan. Tetapi jika nanti dalam perjalanan latihan tersebut Sannah seperti tidak siap, maka dia harus menerima keputusan dirinya tidak bisa bertanding. Dan untuk alasan keamanan Sannah harus menjalani pemeriksaan kesehatan dengan dokter secara intensif.

Pertandingan tinju pun dijalani Sannah. Dalam pertandingan tersebut, rondenya dibuat lebih singkat dan petinju dilarang memukul area kepala. Pertandingan itu khusus untuk memperkenalkan sosok Sannah di dunia tinju.

Sannah mengungkapkan segala sesuatu yang dilaluinya dan diraihnya sekarang merupakan upayanya menemukan orang yang senasib dengannya, seorang hijabers disabilitas yang menyukai olahraga. Dia berharap bisa berbagi pengalaman dan memahami kekurangan dirinya ketika bertemu mereka yang senasib.

“Sikap peduli terhadap penyandang disabilitas dalam komunitas muslim atau setidaknya masyarakat tidak merasa saya ini berbeda dan memandang negatif,” katanya.

Sannah menambahkan bagian tersulit dalam hidup penyandang disabilitas adalah ketika mencoba untuk tetap bangkit di tengah keputusasaan. “Komentar negatif itu bagi mereka sulit untuk diabaikan,” kata Sannah.


Sumber:

https://www.modelbajumuslimbatik.com/