Our Blog

What we post and publish is awesome!

MODEL PROTOTIPE

MODEL PROTOTIPE

MODEL PROTOTIPE

Prototyping dimulai dengan pengumpulan kebu­tuhan. Pengembang dan pelanggan bertemu dan mendefinisikan obyektif keselu­ruhan dari perangkat lunak, mengidentifikasi segala kebutuhan yang diketahui, dan area garis besar di mana definisi lebih jauh merupakan keharusan kemudian dilaku­kan “perancangan kilat”. Perancangan kilat berfokus pada penyajian dari aspek­aspek perangkat lunak tersebut yang akan nampak bagi pelangganlpemakai (contohnya pendekatan input dan format output). Perancangan kilat membawa kepada konstruksi sebuah prototipe. Prototipe tersebut dievaluasi oleh pelanggan/ pemakai dan dipakai untuk menyaring kebutuhan pengembangan perangkat lunak. Iterasi terjadi pada saat prototipe disetel untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, dan pada saat yang sama memungkinkan pengembang untuk secara lebih balk memahami apa yang harus dilakukannya.

Secara ideal prototipe berfungsi sebagai sebuah mekanisme untuk mengidentifi­kasi kebutuhan perangkat lunak. Bila prototipe yang sedang bekerja dibangun, pengembang harus mempergunakan fragmen-fragmen program yang ada atau mengaplikasikan alat-alat bantu (contohnya report generator, window manager, dip yang memungkinkan program yang bekerja untuk dimunculkan secara cepat.

Prototipe bisa berfungsi sebagai “sistem yang pertama”. Brooks setuju bila 8iata membuangnya. Tetapi mungkin ini merupakan pandangan yang ideal. Memang benar bahwa baik pelanggan maupun pengembang menyukai paradigma prototipe. Para pemakai merasa enak dengan sistem aktual, sedangkan pengembang bisa membangunnya dengan segera.

Tetapi prototiping bisa juga menjadi masalah karena alasan-alasan sebagai berikut:

Pelanggan melihat apa yang tampak sebagai versi perangkat lunak yang bekerja tanpa melihat bahwa prototipe itu dijalin bersama-sama “dengan penmen karet dan baling wire”, tanpa melihat bahwa di dalam permintaan untuk membuatnya bekerja, kits belum mencantumkan kualitas perangkat lunak secara keseluruhan atau kemampuan pemeliharaan untuk jangka waktu yang panjang. Ketika diberi infJrmasi bahwa produk harus di­bangun lagi agar tingkat kualitas yang tinggi bisa dijaga, pelanggan akan meneriakkan kecurangan dan permintaan agar dipakai “beberapa campur­an” untuk membuat prototipe menjadi sebuah produk yang bekerja yang lebih sering terjadi, sehingga manajemen pengembangan perangkat lunak menjadi penuh dengan belas kasihan.

Pengembang sering membuat kompromi-kompromi implementasi untuk membuat prototipe bekerja dengan cepat. Sistem operasi atau Bahasa pemrograman yang tidak sesuai bisa dipakai secara sederhana karena mungkin diperoleh dan dikenal; algoritma yang tidak efisien secara seder­hana bisa diimplementasikan untuk mendemon-strasikan kemampuan. Setelah selang waktu tertentu, pengembang mungkin mengenali pilihan­pilihan tersebut dan melupakan semua alasan mengapa mereka tidak cocok. Pilihan yang kurang ideal telah menjadi bagian integral dari se­buah sistem.

Meskipun berbagai masalah bisa terjadi, prototipe bisa menjadi paradigma yang efektif bagi rekayasa perangkat lunak. Kuncinya adalah mendefinisikan aturan-aturan main pada saat awal; yaitu pelanggan dan pengembang keduanya harus setuju bahwa prototipe dibangun untuk berfungsi sebagai mekanisme pendefmisian kebutuhan. Prototipe kemudian disingkirkan (paling tidak sebagian), clan perangkat lunak aktual direkayasa dengan tertuju kepada kualitas dan kemam­puan pemeliharaan.

Baca Juga  :