Our Blog

What we post and publish is awesome!

PENGERTIAN AL-FURQAH

PENGERTIAN AL-FURQAH

PENGERTIAN AL-FURQAH

Adapun pengertian al-furqah itu, secara bahasa artinya ialah perpecahan. Sedangkan pengertiannya dalam istilah Syari’ah Islamiyah ialah “berpisah dari Al-Jama’ah”. Berpisah dari Al-Jama’ah itu bisa dalam bentuk pemahaman dan pengamalan agama yang tidak merujuk kepada Al-Jama’ah, dan bisa juga dalam bentuk menumpahkan darah kaum Muslimin dalam rangka memberontak kepada pemerintah Muslimin atau melakukan pemberontakan kepada penguasa di negeri Muslimin sehingga tentunya akan menumpahkan darah kaum Muslimin. Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi sallam telah mengingatkan ummatnya dari bahaya al-furqah ini dalam sabda-sabda beliau berikut ini:

“Orang-orang Yahudi telah terpecah atas tujupuluh satu atau tujupuluh dua pecahan dan orang-orang Nashara telah terpecah atas tujupuluh satu atau tujupuluh dua pecahan, dan ummatku akan terpecah dalam tujupuluh tiga pecahan.” (HR. Al-Aajurri dalam Asy-Syari’ah jilid 1 hal. 306 riwayat ke 22 dari Abi Hurairah).

Al-Imam Al-Aajurri rahimahullah membawakan keterangan Al-Imam Yusuf bin Asbath rahimahullah tentang furqah ini sebagai berikut:
“Cikal bakal bid’ah itu ada empat (yaitu ): Ar-Rawafidl, Al-Khawarij, Al-Qadariyah, dan Al-Murji’ah. Kemudian bercabang-cabang dari setiap firqah (pecahan) tersebut delapan belas kelompok (ahli bid’ah). Sehingga seluruhnya berjumlah tujupuluh dua pecahan. Sedangkan pecahan yang ketujupuluh tiga, adalah kelompok yang dinamakan oleh Nabi shallallahu `alaihi wa sallam dengan Al-Jama’ah, yang dikatakan oleh beliau bahwa kelompok itulah yang disebut An-Najiah (yakni selamat, pent).” (riwayat Al-Ajurri dalam kitab yang sama riwayat ke 20 halaman 303 – 304).
Ar-Rawafidl atau bentuk tunggalnya adalah Ar-Rafidlah, ialah kelompok ahli bid’ah yang menolak untuk mendoakan keridlaan Allah bagi Abu Bakar Ash-Siddiq dan Umar bin Al-Khattab. Sebaliknya mereka menyatakan kutukan bagi keduanya dan mengkafirkannya. Mereka ini sesungguhnya adalah aliran Saba’iyah (yakni pengikut tokoh Yahudi yang pura-pura masuk Islam bernama Abdullah bin Saba’ yang pura-pura memuliakan Ali bin Abi Thalib dan Ahli Baitnya dalam rangka mencerca Khalifah-Khalifah yang sebelumnya) yang kemudian mereka ini terkenal di Indonesia dengan nama Syi’ah.
Al-Khawarij, ialah sebuah aliran bid’ah yang menganggap kafir seorang Muslim yang berbuat dosa apapun. Kemudian aliran ini berkembang menjadi aliran yang mengkafirkan segenap Muslimin yang di luar golongannya. Akhirnya golongan ini juga mempunyai atribut bid’ah lainnya, yaitu memberontak kepada pemerintah Muslimin karena dianggap telah kafir dengan berbagai pelanggaran yang ada pada pemerintah itu.
Al-Qadariah, ialah sebuah aliran bid’ah yang menolak beriman kepada adanya taqdir Allah Ta`ala dalam segala kejadian di alam ini.
Al-Murji’ah, ialah sebuah aliran bid’ah yang menyatakan bahwa amalan itu tidak ada kaitannya dengan iman. Sehingga iman itu tidaklah bertambah dengan amalan shalih dan tidak berkurang dengan amalan kemaksiatan. Sehingga dengan keyakinan yang demikian ini, maka aliran tersebut menyatakan bahwa imannya orang-orang shalih sama dengan imannya orang-orang ahli maksiat. Bahkan sampai-sampai mereka menyatakan bahwa imannya para Nabi dan Rasul shalawatullah wa salamuhu `alaihim ajma’ien sama dengan imannya orang-orang fasiq.
Juga Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam telah memperingatkan:

“Akan terjadi pada ummatku perselisihan dan perpecahan. Kemudian akan muncul satu kaum yang omongannya baik tetapi perbuatannya jelek. Mereka ini membaca Al-Qur’an, tetapi bacaan Al-Qur’an itu tidak melampaui kerongkongan mereka. Mereka itu terlepas dari agama, sebagaimana terlepasnya anak panah dari sasarannya (karena terlalu kerasnya anak panah itu menghunjam pada sasarannya sehingga hanya lewat saja pada tubuh sasarannya, pent). Kemudian mereka itu tidak akan kembali kepada agamanya (setelah keluar daripadanya, pent), sehingga kembalinya anak panah itu melewati tubuh yang telah ditembusnya (yakni permisalan tidak mungkinnya orang-orang tersebut kembali kepada agama, seperti tidak mungkinnya anak panah kembali melewati lagi tubuh yang telah ditembusnya, pent). Mereka ini adalah sejelek-jelek ciptaan Allah dan makhluk-Nya. Maka beruntunglah bagi siapa (dari kaum Mukminin yang) berhasil membunuhnya atau dibunuh oleh mereka. Mereka itu menyeru kepada Kitab Allah, padahal mereka itu samasekali bukan daripadanya. Maka barangsiapa yang berhasil membunuh mereka, maka dia adalah orang yang paling utama mendapatkan kemuliaan dari Allah.” Para Shahabat Nabi bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah ciri khas mereka itu?” Beliau menjawab: “Mereka suka menggundul rambutnya.” (HR. Al-Aajurri dalam Asy-Syari’ah jilid 1 hal. 336 – 337 riwayat ke 40, dari Anas bin Malik dan Abu Sa’ied Al-Khudri).

Al-Imam Al-Aajurri rahimahullah menerangkan:
“Maka tidaklah sepantasnya bagi orang yang melihat kesungguh-sungguhannya seorang Khawarij, yang telah memberontak kepada penguasa Muslimin. Baik terhadap penguasa yang adil ataupun terhadap penguasa yang dhalim, kemudian dia memobilisir kelompoknya untuk memberontak, dan menghunuskan pedangnya, serta menghalalkan tindakan membunuh Muslimin. Tidak sepantasnya seorang Muslim yang melihat mereka itu terkecoh dengan bacaan Al-Qur’an mereka yang bagus, dan dengan panjangnya shalat mereka, juga dengan semangat mereka yang selalu berpuasa sunnah, dan juga tidak sepantasnya terkecoh dengan kehebatan mereka dalam menerangkan ilmu agama. Maka janganlah terkecoh dengan itu semua, bila madzhab agamanya adalah madzhab Khawarij.” (Asy-Syari’ah, Al-Aajurri, jilid 1 halaman 345).
Dengan demikian, pengertian al-furqah itu ialah ketika orang tidak lagi merujukkan pemahamannya kepada para Shahabat Nabi dan para Tabi’in dalam memahami agamanya. Juga termasuk pengertian al-furqah adalah memberontak kepada penguasa Muslimin sehingga menumpahkan darah kaum Muslimin karenanya. Sebab dengan memberontak kepada penguasa Muslimin itu, maka sebagian kaum Muslimin akan membela pemerintahnya dan sebagian lagi memerangi pemerintahnya. Sehingga yang terjadi adalah peperangan di antara sesama kaum Muslimin sebagai akibat dari pemberontakan tersebut.

Baca Juga :